Jojobismandi

“kamu adalah apa yang kamu pikirkan”

maaf kosong . . .

blog Q utk bbrp waktu kdepan bakal kosong kyk gni terus…

mhn maaf…cz msh blum sempet..

banya gawe..

tp trmkasih atas kunjungannya…

jojo

Juni 11, 2009 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan sebuah Komentar

kisah si ulat kecil

Baru kemarin si ulat kecil merebah  letih udara bumi, Penat memang. Tertatih si ulat kecil mengalunkan kaki mungilnya, menapaki liku pohon yang tak jarang berduri. Di hati kecilnya sebenarnya si ulat kecil menahan haus, haus akan kasih sayang orang tuanya, orang tua yang tak pernah letih untuk mendoakan dirinya. Yang kini berada jauh darinya, yang ia sendiri tak tahu bagaimanakah kabarnya????adakah dia baik-baik saja di sana???? ”Tuhan…Sayangilah kedua orang tuaku,limpahkanlah kedamaian dan kebahagiaan atasnya…”gumamnya dalam hati tak pernah henti,

Dan jauh dalam kesedehanaanya, sebenarnya si ulat kecil mempunyai satu mimpi, mimpi besar nun menjadi obsesi baginya. Mimpi yang di ilhami oleh kekagumannya pada saudara-saudaranya yang tiap waktu lalu-lalang di atasnya, mengibaskan sayap lembutnya menebar kedamaian dan keindahan melayang di udara yang letih, hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain menikmati madu manisnya, bunga yang tiap  pagi melambainya, seakan berkata ” Ayo…segeralah raih aku!!,nikmati madu ku!!”.

Karenanya dibalik wajah lugunya tak henti si ulat kecil bergumam ” Tuhan….kapankah giliranku..???”.

Hari demi hari berlalu…

Si ulat kecil kini tumbuh menjadi ulat yang agaknya semakin dewasa.

Keinginan dan doa yang kuat, rupanya telah menjelma menjadi perisai semangat yang kokoh, keyakinan yang kuat kini membuatnya semakin bersemangat, bersemangat, dan semakin bersemangat melahap dedaunan yang tentu saja bergizi baginya, prisainya yang kokoh membuatnya kebal akan teman-temanya yang tak jarang mengejek dengan sebutan ’ si ulat rakus”, ”si ulat pemimpi’,” si ulat yang sok”,. Namun justru di situlah si ulat kecil mendapatkan semangat yang semakin kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Hari semakin berlalu…

Tanpa disadari si ulat kecil kini telah terbungkus selimut tebal, berwarna kusam, selimut yang mengikat dan membuatnya merasa tak nyaman, tak leluasa untuk bergerak, selimut yang membuatnya harus menahan rasa lapar dahaga untuk sementara waktu.

Namun selimut itulah yang kelak mengantarkannya untuk mewujudkan mimpinya untuk terbang bebas menggibaskan sayap-sayap indahnya bersama saudara-saudaranya menikmati segar dan manisnya madu dari bunga yang selama ini melambainya. Ya…., kini si ulat kecil telah menjadi sebuah kepompong yang rapuh.

Tak sabar rasanya si ulat kecil untuk segera menyempurnakan wujudnya, di benaknya hayal demi hayal seolah datang silih berganti, menghayal berbagai hal  yang akan ia lakukan seandainya telah berhasil mengibaskan sayapnya, termasuk menikmati madu dan menemui teman-teman yang selama ini telah mengejeknya seraya berkata ” Hai kalian, dulu kalian terlalu sering mengejekku…kini lihatlah aku, aku telah menjadi kupu-kupu, makhluk terindah di bumi ini….tak seperti kalian!!”,begitulah kira-kira apa yang di hayalkannya.

Terlarut dalam hayal yang semakin menjadi-jadi, tanpa disadarinya akhirnya kini tiba waktu bagi si ulat kecil untuk keluar dari selimut yang selama ini membelenggunya dan segera mengibaskan sayap-sayap layaknya saudara-saudaranya.

Dan diawalinya dengan geliat kecil, dan semakin menggeliat dan menggeliat kuat, sekuat tenaga, semampunya si ulat kecil berusaha merobek belenggunya, berusaha dan terus berusaha hingga tetes keringat peluh pun tak tertahankan. Si ulat kecil makin menggeliat dan semakin merintih . Namun agaknya usahanya ini belum juga membuahkan hasil,…” Tuhan  kenapa begitu berat jalan yang harus ku lewati untuk wujudkan mimpiku….”, keluhnya kecil.

Selang beberapa saat si ulat kecil memulai lagi perjuangannya yang kedua, kali ini si ulat kecil mengayun-ayunkan tubuhnya, mengayun dan semakin mengayunkan, membenturkan tubuhnya ke salah satu dahan pohon berharap permukaan kulit pohon yang tajam akan merobekkan selimut yang membelenggunya, walau sedikit si ulat kecil terus berusaha…bukan main semangatnya, hingga makin keras saja benturan itu.

Namun bukannya selimut itu robek, malah rintih kesakitan yang amat ia dapatkan,…

”Tuhan,…. apa semua saudaraku juga mengalami hal yang sama sepertiku???…lalu ……kenapa begitu berat masa yang harus ku lewati???..”, lagi-lagi si ulat kecil mengeluh perih.

Sesaat kemudian si ulat kecil pun memulai dan memulai lagi, mencoba dan terus mencoba berulang-ulang tak henti-henti perjuangannya dengan seribu cara yang terangkum di benaknya. Dan terus berharap ada sedikit saja celah yang tercipta untuknya,

agaknya usaha demi usaha yang ia lakukan pun mulai membuahkan hasil, kini hampir tiga perempat dari tubuhnya telah berhasil keluar dan ia mulai bisa melihat anggun warna sayapnya yang indah keemasan, kini tinggal sedikit lagi…

Namun kali ini justru semakin sulit, tiga kali lipat lebih sulit dari yang sebelumnya….padahal tinggal sedikit lagi, impian pun sudah di depan mata, dengan sisa tenaga yang semakin tipis…..

” Tuhan,…apa gerangan salahku, hingga aku harus menderita seperti ini…..!!!,” teriaknya lantang

Rupa rupanya kini keputusasaan  mulai melanda si ulat kecil…, ia menangis dan di sela tangisnya ia berharap akan datang keajaiban padanya.

Rupanya harapan itu terkabul, tak lama berselang dari keluhnya datang seorang manusia yang tanpa di sadarinya sedari tadi manusia itu memperhatikan si ulat kecil, terbesit di hatinya rasa iba melihat perjungan si ulat kecil untuk lepas dari kantung kepompongnya, yang di anggapnya sia-sia saja.

Dan mulailah manusia itu memainkan perannya, memberikan pertolongan pada si ulat kecil. Bukan main senangnya hati si ulat kecil karena kini ia tidak lagi perlu bersusah payah melepas selimutnya. Di biarkannya begitu saja manusia itu menolongnya ” toh tinggal sedikit lagi..” gumamnya  Sedikit demi sedikit manusia itu mulai merobek selimut si ulat kecil.

Dan akhirnya…….

Kini saat yang di tunggu-tunggu si ulat kecil itu telah tiba

Ia rentangkan sayap nan indah itu, dengan congkak ia mencoba mengibaskan sayap lembutnya, mengibas dan terus mengibaskan sayap itu…

Namun…..

Betapa kagetnya si ulat kecil, meski terlihat indah dan kokoh, meski terlihat lembut, tapi   ternyata… sayap yang ia bangga-banggakan selama ini tak bisa dia gunakan untuk terbang layaknya saudara-saudaranya, tak bisa ia gunakan untuk menikmati segar dan manisnya madu dari bunga-bunga yang selama ini ia hayalkan, tak bisa ia gunakan untuk memamerkannya pada teman-teman yang mengejeknya dulu.

Rupanya pertolongan yang diberikan oleh manusia itu adalah awal datangnya bencana bagi si ulat kecil….

Tak sengaja dalam usahanya merobekken selimut si ulat kecil, manusia itu telah merobekkan kantung kecil yang berisi cairan yang ibarat pelumas bagi sayap-sayap seekor kupu-kupu agar sayap itu bisa digunakan untuk terbang, tanpa cairan itu sayap itu hanyalah helaian tak berguna.

Kini si ulat kecil hanya bisa merunduk, menangis, dan menyesali dirinya…”kenapa ia mau saja menerima pertolongan itu??”, seandainya ia mau berusaha lebih keras lagi, seandainya ia lebih menghargai jerih payahnya sendiri padahal tinggal sedikit lagi, mungkin kini ia sedang terbang bersama saudara-saudaranya, dan bukan tertunduk menyesal di sini.

 

  ” Kawan, Tiada yang   kebetulan!!!!!…semua hal, semua kejadian, semua kecelakaan, semuamusibah, semua halangan, kondisi,posisi, semua tentang diri kita sendiri, tentang semua yang terjadi di sekeliling kita….

semuanya adalah berkah dari ALLAH untuk kita agar lebih kuat, tangguh, dan lebih siap untuk VISI HIDUP SEBENARNYA yang lebih besar!!!!”  karena sebenarnya Tuhan telah menyediakan semua analog untuk jalan hidup kita…      

jojo_jokemix@yahoo.co.id                                                                              

                                                             

                                                                                                        

 

 

 

 

 

September 3, 2008 Posted by | kisah sukses | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.